Tahun 2012/2013, DKL terbitkan
buku ”Akting Menurut Sistem Stanislavski (sebuah pengantar)” dengan penulis
Iswadi Pratama (Sutradara/Pimpinan Teater Satu) dan Ari Pahala Hutabarat
(Sutradara/Pimpinan KoBER). Peluncurannya dilaksanakan pada hari Jumat
(6/9/2013), di Gedung I (Sejarah) FKIP Universitas Lampung.
Teater perlu menambah referensi yang tepat
jika ingin berprestasi dan bersaing ke tingkat nasional dan bahkan dunia. Hal
tersebut dikemukakan Ketua Umum DKL Syafariah Widianti atau biasa disapa Atu
Ayi, Rabu (4//9/2013). Salah satu cara untuk mewujudkan hal tersebut adalah
dengan menghadirkan sebuah referensi yang akan digunakan sehingga menambah
gairah perteateran di Lampung.
"Buku ini memuat sekumpulan
tulisan mengenai teori akting yang tersebar dalam beberapa buku Stanislavski,
baik yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia maupun yang belum. Saya
sangat mendukung setiap upaya pengembangan kesenian di Lampung," kata Atu
Ayi.
Sehingga diharapkan dengan
hadirnya buku ini, proses berteater lebih terarah dan pada akhirnya secara
artistik menjadi lebih baik lagi. Jadi berteater tidak melulu pakai nurani
saja. "Teater harus didekati dengan ilmu pengetahuan yang tepat dan pada
konteks ini, kehadiran buku ini sangat tepat relevansinya," ujarnya.
Ketua Harian DKL Hari
Djayaningrat menyatakan buku ini merupakan sumbangsih yang sanagt berguna.
"Adanya buku ini akan membuat pelaku teater memiliki pedoman dalam proses
kreatifnya," tambahnya.
Ahmad Djusmar, Ketua Komite
Teater DKL, mengatakan buku ini ditulis berdasarkan teori-teori akting dramawan
asal Rusia, Constantin Stanislavski dan disarikan oleh pekerja teater Lampung.
"Harapannya, buku ini ikut
menyumbang perbendaharaan buku referensi mengenai teater dan mampu menjadikan
iklim berteater di Lampung menjadi lebih baik," pungkasnya.
Sambutan Sekretaris DKL, Ch. Sapto Wibowo |
Peluncuran Buku Stanislavski, 6/9/2013 |
Peluncuran Buku Stanislavski, 6/9/2013 |
Peluncuran Buku Stanislavski, 6/9/2013 |
Peluncuran Buku Stanislavski, 6/9/2013 |
Peluncuran Buku Stanislavski, 6/9/2013 |
Peluncuran Buku Stanislavski, 6/9/2013 |
Peluncuran Buku Stanislavski, 6/9/2013 |
Teater sama halnya bidang keilmuan lain, harus mempunyai landasan keilmuan yang jelas. Berdasarkan keprihatinan kurangnya referensi teater di Lampung serta keinginan berbagi tentang pentingnya ilmu berteater, dan memancing iklim teater kembali hidup di Lampung, Iswadi Pratama dan Ari Pahala Hutabarat menghadirkan buku “Akting Menurut Sistem Stanislavski (sebuah pengantar).
Ari mengatakan buku ini menggambarkan tata cara bagaimana berakting dengan baik dan benar berdasarkan sistem Stanislavski yang merupakan bapak teater modern, selama ini di Indonesia hanya beredar buku tentang teater Stanislavski versi terjemahan sedangkan yang mengulas secara lengkap baru buku tersebut.
“Mengapa buku ini menjadi penting ? kalau kita mau bermain teater dengan oke,harus tahu sistem Stanislavski. Ibaratnya, melakukan teater itu ada adabnya, seperti sholat harus tahu rukunnya, nah disini dibahas”ujar Ari ditemui usai peluncuran dandiskusi buku tersebut di Gedung I FKIP Unila, Jumat (6-9)
Menurut ari, selama ini di Lampung berteater baru sampai bermain dan membaca, sedikit sekali yang menulis, padahal ini menjadi penting. Perkembangan teater di Lampung cukup dewasa selama 25 tahun, tapi belum ada satu pun refrensi teater menjadi acuan kita harus ubah itu dan ini angka satu, selanjutnya generasi penerus yang akan meneruskan angka selanjutnya.
“Kerja teater itu dibangun diatas landasan keilmuan, selama ini orang berkesenian pada umumnya bukan berdasarkan ilmu, tapi menurut sebagian orang yang penting adalah rasa. Itu betul tapi tidak cukup karena dinegara lain orang berteater berdasarkan ilmu makanya ada jenjang kestrataan dalam ilmu teater mulai S1, S2, bahkan professor. Sayangnya, ilmunya itu yang sering tidak disadari dan dikomunikasikan oleh insan teatar itu sendiri,”jelas Ari
Kenapa harus buat buku? Iswadi Pratama menjelaskan berteater tidak cukup modal kemauan, menurutnya untuk mengiktat ilmu itu harus dengan menuliskannya, bila tidak ia akan mentok pada masanya karena karyanya tidak dibangun diatas dasar keilmuan, sesuatu yang dilakukan tanpa dasar ilmu ia sulit dipertanggungjawabkan.
“Bila ingin menekuni sesuatu perdalam jangan hanya dipermukaan , banyak orang cerdas di Lampung tapi males menulis, karena menulis satu level diatas membaca, celakanya minat membaca saja kita kurang baik, Buku ini juga selain menjadi inspirasi, provokasi juga ejekan bagi para doktor seni mana eksistensi,”ujar dia
Ia berharap selain penambah refrensi juga memicu iklim teater, sehingga mudah-mudahan tahun yang akan datang ada semacam festival yang diikutin seluruh penggiat teater di Lampung. (Gebe)
0 on: "Peluncuran Buku tentang Stanislavski oleh DKL"