Tampilkan postingan dengan label esei. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label esei. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Februari 2015

Manusia Primitif

- Tidak ada komentar
Pai Mei, bukan dosen bahasa
oleh Tim Warta Seni

Pada suatu ketika Robert Koplak bercerita kepada teman-temannya, bahwa  di sebuah kelas yang berisi puluhan mahasiswa, seorang lelaki yang mengaku sebagai dosen terbang, menyampaikan sebuah materi yang maha penting. Maka dengan tertib dan antusias, puluhan mahasiswa bersiap untuk menyimak pelajaran yang hendak di sampaikan dosen yang setengah jam lalu mengaku menunggu mereka. Jadwalnya pelajaran: Menulis 1.

Sejenak hening.  

"Berapa banyak Anda membaca buku dalam sebulan?" tiba-tiba ia bertanya pada mahasiwa paling depan, lalu ke samping, ke belakang, belakang lagi, dan seterusnya.

Dengan bangga, sejumlah mahasiswa menyatakan, 5 buku (sebagian besar komik dan novel), ada juga yang 3 buku, bahkan hanya 1 buku. Sebagian lagi hanya menyebut koran dan majalah sebagai bahan bacaan. Nyaris tidak ada seorang pun yang mengaku tidak membaca dalam sebulan.

Pertanyaan berikutnya:

"Berapa banyak Anda menulis dalam sebulan?"

kembali hening, bahkan mengarah ke senyap..

Hanya sedikit yang menjawab, ada yang bilang baru berupa diari. itu pun hanya sesekali. Dan sangat,amat sedikit dari mereka yang bisa mengabadikan moment hidup sehari-hari, ide dan gagasan dalam bentuk tulisan, apatah lagi sampai menulis sastra. Sisanya lenyap ditelan badai.

Lalu dosen itu bilang:

“Wah, Anda ini termasuk manusia pra sejarah! mausia primitif!”

Mereka terbelalak dan hendak memprotes. Namun, sebelum kelas itu pecah oleh protes puluhan mahasiswa yang merasa modern itu, dosen kita dengan tenang, memberikan isyarat dengan tangannya agar suasana kelas  yang nyaris ricuh itu.

“Ingat! Hanya manusia pra sejarah yang tidak mau menulis dan mengabadikannya dalam sesuatu yang bisa dibaca oleh generasi yang akan datang. Sehingga mereka tidak pernah tercatat dalam sejarah, dianggap tidak ada!"

Semua mahasiswa langsung terdiam, saling pandang, mungkin ada yang malu karena title agen of changenya,

 "Nah, apakah kalian masih yang mau menjadi manusia primitif atau manusia pra-sejarah?"

Seperti anak TK, mereka menjawab koooor:

“TIDAAAAAAAAK….”

"Maka, marilah menulis dan abadikan dalam bentuk apapun yang bisa dibaca oleh generasi mendatang,"

Ada beberapa mahasiswa hendak bertanya, namun dosen meminta semuanya kembali diam.

"Oke, kelas untuk hari ini kita cukupkan, jadi sebelum ada tulisan dari kalian, jangan bilang pada siapapun bahwa kalian mahasiswa, atau manusia beradap ya!"

"Bentuk tulisannya apa pak?" tanya seorang mahasiswa.

"Terserah apa saja, ga ada bentuknya juga gapapa, yang penting bikin tulisan dua halaman A4, time new roman, satu setengah sepasi.... oke sampai jumpa... hahaha....  "

lalu satu telunjuknya bergerak ke arah pintu, pintu terbuka, dan dosen kita keluar, kakinya tak menyentuh ke tanah, dan setelah melewati pintu, ia langsung melesat dan lenyap sambil tertawa. Hahaha...hahaha....  Kelas hening, ada yang mengucek mata, ada yang membuku-mukul kepalanya, ada yang mencubit lengannya.... dan suara tawa dosen iu terus bergema, bahkan hingga esoknya, bahkan hingga haris-hari selanjutnya, minggu-minggu selanjutnya.... dan  salah satu mahasiswa memberitahukan bahwa setiap terdengar suara tawa dosen yang taernyata tak pernah lagi mengajar mereka, daun-daun berjatuhan, bunga yang hampir mekar layu seketika .... 

Harry Potter, Masa Lalu, dan Kita

- Tidak ada komentar
Kopi Pagi,Teras Lampung, yang hangat dan menggelitik

oleh Dt. Nusa Putra, M.Pd*

Harry Potter memiliki masa lalu yang perih, penuh derita dan mengerikan. Ayah dan ibunya tewas saat melawan Lord Voldemort penguasa kegelapan. Ia menjadi yatim piatu. Dibesarkan oleh pamannya dalam suasana yang tidak menyenangkan. Hidupnya adalah derita.

Rupanya perseteruan dengan penguasa kegelapan belum berakhir. Sepanjang hidupnya, sejak kecil, Harry harus berhadapan dengan penguasa kegelapan dan pengikutnya yang sangat kejam. Masa lalu tampaknya merupakan penentu hidupnya pada masa kini dan masa depan.

Harry seperti terus diburu, dihantui dan diancam oleh masa lalu yang sungguh menginginkannya tewas sebagaimana ayah dan ibunya. Apalagi akhirnya ramalan tentang dirinya terungkap. Ia tidak bisa hidup berbarengan dengan Lord Voldemort. Salah satu di antara mereka harus mati. Takdir menentukan mereka merupakan seteru abadi yang harus saling menghancurkan. Ini bermakna hidup kekiniannya merupakan kelanjutan yang niscaya dari masa lalunya. Ia diborgol oleh masa lalu.

Menjadi sandera abadi dari masa lalu. Tak ada pilihan lain.

Masa lalu kadang begitu kejam, sama sekali tak memberi pilihan dan tak terelakkan. Ia memadati ingatan dan hidup sampai sama sekali tak ada celah dan kesempatan untuk seingsut pun menjauhinya. Inilah takdir banyak manusia. Bukan hanya Harry Potter.

Semua manusia melewati dan memiliki masa lalu. Masa lalu tidak pernah dilewati begitu saja, datar-datar saja. Ada penghayatan, kadang mendalam, karena dilalui dengan mengalaminya secara langsung dan nyata. Dalam konteks ini pengalaman menjadi kata kunci. Masa lalu seringkali meninggalkan jejak sangat mendalam dalam sistem memori kita. Kita bisa tersenyum, tertawa bahkan menangis saat mengenangnya. Masa lalu merupakan pengalaman yang menggumpal menjadi kenangan, nostalgi.

Bagaimana kita menyikapi masa lalu, entah berapa banyak atau sedikit, bisa mencerminkan siapa kita. Ada manusia yang menjadikan masa lalu sebagai sumber kebahagiaan, kekuatan dan kebanggan. Apapun yang berasal dari masa lalu sangat dihargai dan dijaga. Perujudan penghargaan itu bisa macam-macam. Mulai dari keterikan pada benda-benda kuno yang berasal dari masa lalu, sampai pada kebanggaan pada gelar-gelar warisan yang berakar pada masa lalu. Gelar-gelar itu dipajang di depan atau belakang nama. Seringkali lebih panjang dari nama. Lucunya, ada pula orang yang bersedia "membeli" gelar-gelar tersebut. Gelar-gelar dari masa lalu yang bisa menjadi bahan ledekan atau olok-olokan pada masa kini.

Ada pula orang yang diborgol masa lalu. Ia tidak bisa memutus borgol atau rantai masa lalu. Masa lalu bagai rantai yang mengikat leher dan kakinya, kemana pun ia pergi. Inilah orang-orang traumatis. Pengalaman tidak menjadi guru yang baik, tetapi menjadi penjara yang buruk bagi mereka.
Umumnya mereka adalah korban. Korban kejahatan atau kekerasan, bahkan terkadang dilakukan oleh orang-orang yang mencintai mereka. Orang yang seharusnya melindungi mereka. Mereka terdiri dari anak-anak yang dibesarkan dengan kekerasan, korban kejahatan seksual, dan orang-orang yang dibesarkan dalam kemiskinan yang akut.

Luka karena kejahatan yang mereka alami menjadi semacam borok dalam sistem otaknya. Itulah sebabnya kenangan buruk masa lalu tak penah bisa mereka lampaui. Tidak sedikit di antara mereka yang berusaha keras agar keluar dari keperihan masa lalu itu. Beberapa berhasil. Namun lebih banyak yang gagal.

Sigmund Freud pendiri pskionalisis percaya bahwa orang-orang yang mengalami gangguan jiwa atau yang tidak mampu kendalikan diri menghadapi situasi tertentu. Orang-orang yang mengalami masalah hidup akut saat dewasa. Termasuk para penjahat. Biasanya berakar dari masa lalu yang kelam dan pahit. Terutama pada saat anak-anak.

Pandangan Freud sangat suram. Memasukkan manusia dalam deteminisme yang tak mungkin dilampauianya. Meskipun pendapat Freud ini terasa sangat merendahkan manusia. Namun, pada kenyataannya memang tidak sedikit manusia yang terkurung tenggelam dalam keperihan masa lalu.
Bagi mereka masa kini dan masa depan merupakan kelanjutan logis, kontinuitas niscaya, akibat yang tak terelakkan dari masa lalu. Masa lalu menenggelamkan mereka dalam hidup tanpa pilihan.

Berbeda dengan tipe manusia di atas adalah manusia yang memiliki kemampuan mengambil jarak dari masa lalu. Manusia tipe ini melihat masa lalu dengan cara yang positif. Ia tahu bagaimana memanfaatkan masa lalu bagi hidupnya pada masa kini. Ia dengan tepat dan cermat memilah dan memilih masa lalu yang bisa diolah bagi peningkatan hidupnya pada masa kini dan masa depan.

Manusia tipe ini mampu melampauai masa lalu. Ia tidak pernah terbebani oleh masa lalu. Betapa pun indah atau perih masa lalu itu baginya. Ia tahu ada bagian dari diri dan hidupnya yang pernah terbakar atau membusuk karena suatu kejadian pada masa lalu.

Tetapi ia yakin selama terus berbuat baik dan mengusahakan kebaikan, semua yang terbakar dan busuk itu akan pulih. Pasti mekar tunas-tunas baru.  Ia sepenuhnya sadar, tak ada manusia suci, tak ada manusia yang tak pernah berbuat khilaf dan salah, terutama pada masa lalu. Namun, ia sadar selama ada kemauan untuk perbaiki diri, minimal mengikuti keledai, diri dan hidup bisa terus dimaknai.

Manusia tipe ini melihat masa lalu seperti tambang emas. Kita tak pernah mendapatkan emas tanpa mengayak atau membersihkan pasir masa lalu untuk menemukan emasnya. Di tambang, emas tersembunyi di antara lumpur dan pasir. Itulah masa lalu.

Ia tahu apa yang perlu diambil dan dipertahankan dari masa lalu, dan apa yang harus dibuang. Dicampakkan dalam lubang hitam masa lalu.

Bagi mereka masa kini tidak selalu merupakan  kelanjutan tak terelakkan dari masa lalu. Mereka bisa lakukan lompatan kuantum, menjadi seseorang yang tak terjamah oleh masa lalu. Bagi mereka, masa lalu tak lebih dari batu loncatan. Sekadar sebuah titik ungkit untuk terbang tinggi, lebih tinggi.

Ada pula manusia yang memperlakukan masa lalu mirip seperti buang hajat  dipagi hari. Dinikmati saat dikeluarkan, dan baru-buru disiram agar segera hilang dari pandangan dan tak pernah ditoleh lagi. Seindah atau seperih apapun, masa lalu adalah masa yang memang harus ditinggalkan. Tak ada waktu untuk sekadar mengingatnya. Karena memang tak bermakna.

Mereka yakin bahwa manusia ditakdirkan menghadap dan berjalan ke depan. Manusia adalah makhluk yang berorientasi atau berkiblat ke depan. Setidak pasti apapun masa depan itu.

Mereka merasa diri seperti kupu-kupu yang sama sekali berbeda dari kepompong meski berasal dari kepompong. Masa lalu adalah kepompong yang berbeda dari kupu-kupu. Jika hendak menjadi kupu-kupu tinggalkan semua kekepompongan. Kupu-kupu bukan kepompong, seperti ayam bukanlah telur.

Masa lalu, masa kini dan masa depan adalah garis putus-putus. Tak ada hubungan logis. Sama sekali bukan kontinuitas, tetapi sepenuhnya diskontinuitas. Mereka lebih sering merasa bahwa masa lalu adalah ilusi dan masa depan merupakan imaji. Bagi mereka yang nyata adalah kini dan di sini.

Mereka tak pernah mau dibelenggu masa lalu dan direpotkan oleh masa depan yang sama sekali tak pasti dan tak terfikirkan. Bukankah saat kita memasuki masa depan, masa depan itu berubah jadi masa kini?

Mereka menghayati bahwa kekinian sama sekali tak berkaitan dengan kelampauan dan keakanan. Bukankah sejarah hidup banyak orang terkenal lebih banyak mengikuti pola ini. Siapakah Madona, Inul Daratista,  Cita Citata, dan Jokowi pada masa lalu? Siapa dia pada masa kini? Dan jadi apa pada masa depan? Mereka  pun tak bisa menjawabnya dengan tepat dan pasti. Sejarah hidup Akil Muchtar, Sutan Bhatoegana, Anas Urbaningrum juga mengikuti pola ini. Keterkaitan itu lebih sering bukan merupakan kausalitas apalagi kontinuitas.

APA MAKNA MASA LALU TIDAK SAMA BAGI SETIAP MANUSIA.

*Dt. Nusa Putra, M.Pd adalah dosen Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Ia banyak menulis buku tentang Metodologi Penelitian.

Sumber: http://www.teraslampung.com/2015/01

Selasa, 20 Januari 2015

Musda DKL 2015 dan Masa Depan Seni Kita

- Tidak ada komentar
Ini Pai Mei, bukan siapa-siapanya robert koplak
wawancara eksklusif
bersama Robert Koplak (seniman gadungan, yang merasa pemikir)

oleh tim warta seni

Bang Iwan Nurdaya Djafar, budayawan Lampung, sastrawan, dewan pembina dan pendiri Dewan Kesenian Lampung baru-baru ini menulis, bahwa dalam waktu dekat Dewan Kesenian Lampung melaksanakan musyawarah seniman untuk memilih pengurus baru periode 2015—2019. Pada rapat pleno DKL 10 Januari lalu telah terbentuk panitia yang akan melaksanakan musyawarah tersebut. Menjelang musyawarah itu fokus perhatian galibnya hanya tertuju kepada calon ketua umum yang akan menggantikan Syafariah Widianti yang sudah menjabat selama dua periode. Termasuk Ketua Harian dan pengurusnya.

Maka ada baiknya, tim warta seni, untuk meminta saran, pandangan-pandangan, dari salah satu seniman gadungan yang meski koplak tapi kadang punya ide-ide segar juga. Dibilang seniman ya seniman, dibilang bukan ya bukan. Tapi dia merasa seniman, meski karyanya meski bertahun-tahun kami selidiki, kami tak menemukan bukti apa pun. foto, pemberitaan, tidak ada. Tapi mungkin ada baiknya berbincang dengannya. Meski harus menempuh dua hari perjalanan untuk sampai ke persinggahannya, di Bukit Jika.

Setelah melewati 124 undakan, menembus hutan pakis dan padang alang-alang, akhirnya sampai juga di tempat narasumber kita tercinta, Robert Koplak. Meski sedikit hawatir, cuaca sedang memburuk, awan menggantung, berarak dan bergandengan seperti sepasang kekasih di taman-taman kota itu. Maka, dengan menepis rasa cemas itu kami melanjutkan langkah, mengabaikan angin yang terus menderu, kabut yang tak juga beringsut dari pucuk-puck rumput atau pohonan di sepanjang jalan yang kami lewati. Semakin dekat,  jalanan setapak itu semakin terjal, yang terkadang licin dan berbahaya, maka harus ekstra hati-hati meniti jembatan gantung menuju persinggahannya, tempat seniman gadungan kita, yang biasa ngomong semaunya, lompat sana, lompat sini, yang tanpa rujukan teori itu, hingga kerap lupa topik yang diperbincangkannya sendiri.

Ia merasa merasa tahu segala hal, dari soal dupa, jenis-jenis buinga, tanaman hias   hingga rancangan bangunan gaya post-modern. kadang ia ingin diskusi soal filsafat, ilmu sosial, psikologi, culture study, dia selalu merasa tahu. Padahal kalau ada orang pinter, yang bener-bener mengejar pemahamannya, bisa jadi ia kelabakan. Meski begitu, dia tetap sok tahu. Kadang berbincang tentang kuda lumping, perkembangan senirupa, opera, hingga film. Dia kadang sok mengulas tentang akting, dari stanislavski, grotowski, butoh, dan lain sebagainya. Termasuk soal pengelolaan sanggar seni yang amatir sampai menajemen paling modern,.ia merasa tahu.. 

Tentang jembatan itu, memang sedikit aneh, dan boleh percaya atau tidak, jika pikiran sedang tidak menentu, maka jembatan bambu dan akar pohon, yang panjangnya tak sampai 50 meter itu akan bergoyang hebat, seolah-olah hendak melempar kita ke jurang tak berdasar yang tak menjanjikan apa-apa kecuali sekumpulan hati yang patah, atau terkapar diantara onggokan kesedihan. Ia menyebutkan jembatan sesuai dengan suasana hati.

Tapi jika hati sedang bahagia, serasa ada pelangi yang melingkupi jembatan itu, lengkap dengan warna langit yang kemerahan, butir-butir gerimis yang disiram cahaya keemasan, dan bunga-bunga seolah bermekaran, diselingi kicau burung dan kepak kupu-kupu.

Segelas kopi dan beberapa potong gula merah yang dipotong kecil-kecil, singkong rebus yang masih menguap, dan sepertinya baru diangkat dari kukusan, kami mulai ngobrol, ngalor-ngidul, ngetan-ngulon, hingga sampai sudut-sudut yang biasa tak terjamah dalam berbagai perbincangan.

Sambil mengisap rokok kreteknya, mengunyah singkong rebus, yang mungkin saja lupa, sebab sejak tadi ia tak kunjung menawarkan, sehingga kami enggan untuk menyentuh, padahal perut rasanya lapar juga. Tapi, seperti yang kami duga, meski mungkin ia tahu, ia tetap membiarkan, hingga air liur kami sesekali berjatuhan. ia tersenyum, dan mempersilahkan kami meneguk kopi dan singkong rebus, yang entah gimana caranya tetap hangat, meski sudah lebih satu jam didiamkan.

Kami pun makan singkong rebus ditemani kopi dan potongan-potongan gula merah. Rasanya enak sekali. Kami menikmatinya, sangat menikmatinya. Hingga lupa, bahwa kami datang untuk wawancara tentang Musda DKl yang sebentar lagi akan dihelat itu. Ketika membuka beberapa catatan pertanyaan yang telah kami siapkan, karena perut yang ternyata kekenyangan, kami mulai menguap, kantuk menyerang dengan dahsyatnya. Dan akhirnya tertidur,dan mungkin begitu lama, sebab ketika terbangun, Robert Koplak sudah tidak ada di tempatnya.

Akibatnya, wawancara Ekslusif tentang Musda DKL 2015 dan Masa Depan Seni kita dengan Robert Koplak berantakan. Dan kami harus menunggu dia pulang. Bisa satu hari,  dua hari, seminggu atau lebih lama dari itu. Entahlah.   

Rabu, 24 Desember 2014

DKL gelar Worskhop Deklamasi Puisi dan Creative Writing 2014

- Tidak ada komentar




Menjelang pergantian tahun, Komite Sastra Dewan Kesenian Lampung (DKL) bekerjasama dengan UKMBS Universitas Lampung menyelenggarakan dua kegiatan penting. Pertama Workshop Deklamasi Puisi yang akan dilaksankan pada tanggal 25– 26 Desember 2014, dan Workshop Menulis Kreatif pada hari Sabtu-Minggu, 27 – 28 Desember 2014. Bertempat di Gedung Graha Mahasiswa (PKM) Lt. 2 Universitas Lampung.   Dan agenda yang tak kalah seru adalah Malam Mengingat Sitor Situmorang, pada hari Jumat tanggal 26 Desember 2014, pukul 19.00 - WIB selesai..


“Pergantian tahun itu harus diisi dengan kegiatan yang bermanfaat,” ujar Ari Pahala Hutabarat, ketua Komite Sastra DKL. 

Workshop Deklamasi Puisi

Deklamasi Puisi adalah satu bidang yang sangat diminati di Indonesia termasuk Lampung, sejumlah event (lomba) dihelat setiap tahunnya. Lomba mendeklamasikan puisi ada di semua level umur dan pendidikan, dari SD, SMP, SMA, Mahasiswa hingga Dewasa. Di tingkat pelajar ada FSL2N dari SD hingga SMA, di tingkat mahasiswa Peksimida dan Peksiminas, dan banyak lagi event-even (lomba) baca puisi yang sifatnya insidental maupun yang terpogram rutin setiap tahunnya.  Karena itu deklamasi atau seni membaca puisi sangat familiar di masyarakat kita.  Namun sayangnya hanya sedikit yang mengetahui dan mampu membaca puisi dengan tepat. Padahal membaca puisi itu ada system pengetahuannya, ada teknik (cara) yang bisa dilatih dan dipelajari agar selain enak didengar juga sesuai dengan maksud puisi yang dibacakan. 
Karena itu Komite Sastra DKL untuk program 2014 ini menggelar Workshop Deklamasi Puisi, dengan menghadirkan narasumber yang tidak asing lagi, sudah sangat berpengalaman dalam hal membaca puisi yaitu; Edi Samudera Kertagama dari Lembaga Deklamasi Lampung, Iswadi Pratama (Penyair, Penulis Lakon, Sutradara Teater Satu Lampung), Ari Pahala Hutabarat (Penyair dan Sutradara Komunitas Berkat Yakin-KoBER), Iin Mutmainah (Komunitas Dongeng Dakocan), selain mahir membaca puisi, beliau juga adalah pendongeng yang handal, sekarang sedang terlibat berbagai program mendengong diberbagai tempat.

Pada pelatihan kali ini peserta akan diberi pengalaman membedah dan membaca puisi dengan tepat. Membaca puisi itu diperlukan pelatihan-pelatihan tertentu, seperti latihan vokal, mimik (ekspresi wajah), dan pantomimik (ekspresi seluruh tubuh).  

Tujuan seorang pembaca puisi tidak berbeda dengan tujuan sastrawan. Keduanya saling membutuhkan dan saling melengkapi. Seorang penyair menyampaikan buah pikirannya, gejolak perasaannya, dan luapan emosinya melalui bahasa tulisan. Penyair melukiskan semua yang dirasakan dan dihayatinya dalam puisi yang ditulisnya. Sedangkan seorang pembaca puisi menyampaikan seluruh buah pikiran, gejolak perasaan, dan luapan emosi penyair tadi melalui bahasa lisan. Pembaca puisi melukiskan semua yang dirasakan dan dihayatinya dalam puisi yang dibacakannya. Baik penyair ataupun pembaca puisi memiliki tujuan yang sama, yakni menyampaikan pikiran, perasaan, luapan emosi yang terdapat dalam puisi yang ingin disampaikan oleh pengarangnya.

Seorang pembaca puisi yang baik, harus bisa menyampaikan isi puisi dengan sejelas-jelasnya dan seutuh-utuhnya kepada penyimak. Ia harus mampu menciptakan kesan di hati pendengarnya, seperti kesan yang terdapat dalam puisi. Membaca puisi harus sepenuh hati, menggunakan teknik yang baik, penuh penjiwaan dan mampu menggiring pendengarnya ke dalam dunia kata-kata puitis itu sendiri.

Workshop Menulis Kreatif

Selain Workshop Deklamasi Puisi, Komite Sastra DKL juga menggelar Workshop  Menulis Kreatif, tujuannya adalah memberikan pengetahuan terkini bagi penulis-penulis muda di Lampung. Waktu Sabtu – Minggu, 27 – 28 Desember 2014 bertempat di Graha Mahasiswa Lt. 2 Universitas Lampung. .
Lampung yang sejak dulu di kenal sebagai negerinya penyair, namun akhir-akhir ini minat bmasyarakat untuk dunia tulis menulis tampak kurang bergairah. Padahal ada banyak manfaat menulis yang bisa kita peroleh, termasuk sebagai terapi diri untuk meraih kesuksesan, menghilangkan stress, sebagai media merencanakan target yang ingin dicapai, untuk menuliskan komitmen, sebagai pengontrol target, slat memformulasikan ide baru, sebagai gudang inspirasi, alat penyimpan memori, memudahkan penyelesaian masalah, sebagai media refleksi dan kebijkasanaan.


Namun, mengemukakan gagasan secara tertulis tidaklah mudah. Di samping dituntut kemampuan berpikir yang memadai, juga dituntut berbagai aspek terkait lainnya. Misalnya penguasaan materi tulisan,  pengetahuan bahasa tulis, motivasi yang kuat, dan lain-lain. Seorang penulis harus menguasai lima komponen tulisan yaitu:  isi (materi) tulisan,  organisasi tulisan,  kebahasaan (kaidah bahas tulis),  gaya penulisan,  mekanisme tulisan, dan lain sebagainya. Menulis bukan hanya sekedar menuliskan apa yang diucapkan tetapi merupakan suatu kegiatan terorganisir sedemikain rupa sehingga terjadi suatu tindak komunikasi antara penulis dan pembaca.

Oleh sebab itu, Komite Sastra merasa perlu mengadakan workshop menulis kreatif, agar kemampuan menulis dan berpikir kreatif  di Lampung semakin membaik. Menulis itu penting,  bukan hanya bagi sastrawan tapi bagi semua profesi. Peserta akan belajar mencari dan mengembangkan ide, latihan berpikir kreatif dan logika, membangun struktur, menganalisis dan meramal karakter—hal-hal yang sebetulnya berguna bukan hanya untuk menulis cerita tapi juga untuk bidang pekerjaan lain.

Pada Workshop kali ini Komite Sastra menghadirkan Narasumber yang sangat Familiar di Lampung. Dia adalah  penyair, mantan redaktu seni dan budaya, yang juga sutradara teater kondang, Iswadi Pratama. Pendiri Teater Satu Lampung, yang karya-karyanya sudah diakui di tingkat nasional dan internasional. Berbagai penghargaan telah di raih olehnya. Demikian juga dengan Ari Pahala Hutabarat, pendiri dan sutradara Komunitas Berkat Yakin (KoBER). Karya-karya puisinya telah banyak dipublikasikan di berbagai media nasional, dan mengikuti berbagai event nasional dan internasional, seperti Ubud Writer Festival, Biennale Sastra, Panggung Penyair Indonesia Modern dan lain sebagainya.

Dalam penyampaian materi workshop, Iswadi Pratama dan Ari Pahala Hutabarat akan mengajak peserta langsung praktik bagaimana menulis,  mencari dan mengurai ide/gagasan, bagaimana memilih diksi, mengembangkan paragraf, dan lain sebagainya. Karena itu seluru peserta workshop menulis kreatif harus membawa laptop atau alat tulis lainnya karena selama dua hari peserta akan lebih banyak pratik dibanding materi ceramah.  Baik Iswadi Pratama mau pun Ari Pahala  akan berbagi pengetahuan terkini yang dibutuhkan seorang agar bisa menjadi penulis yang keren. Pemateri akan semakin lengkap dengan kesediaan Udo Z Karzi, Redaktur Seni dan Budaya SKH Lampung Post, yang juga penyair, cerpenis dan pemerhati sejarah, yang telah memperoleh sejumlah penghargaan atas karya-karyanya..  .




.








Senin, 08 Desember 2014

Sekuraan, Sebuah Pesta Topeng Rakyat Lampung

- Tidak ada komentar
Sekuraan, potensi wisata Lampung Barat


Oleh Udo Z. Karzi


DI samping sastra (tradisi lisan), ternyata khazanah budaya Lampung juga menyimpan seni tupping (topeng). Di Kabupaten Lampung Barat dan Tanggamus umpamanya, dikenal sekuraan, sebuah pesta topeng tradisi untuk merayakan Hari Raya Idulfitri.

Seperti halnya nasib seni tradisi Lampung lainnya, sekuraan pun tidak luput dari ancaman kepunahan. Gerusan globalisasi dan modernisasi yang tidak tertahankan menghantam dan mengancam keberadaan seni tradisi, tak terkecuali sekuraan. Padahal sekuraan dalam tataran budaya daerah Lampung mempunyai arti yang cukup penting sebagai sarana bersilaturahmi dan juga menampilkan kebebasan berekspresi lewat topeng.

Sekuraan ini hanya dikenal di beberapa kecamatan seperti Belalau, Batubrak, Liwa, dan Sukau (Lampung Barat) serta Kotaagung dan Wonosobo (Tanggamus).

Berangkat dari penelitian Lilia Aftika, ada dua versi asal-usul sekuraan. Versi pertama menyebutkan sekuraan sudah ada sejak zaman Hindu. Topeng-topeng yang dikenakan merupakan penjelmaan orang-orang yang dikutuk dewa karena berbuat tidak terpuji. Perbuatan tidak terpuji yang dimaksud adalah tidak mengakui adanya dewa yang patut disembah. Akibatnya, rupa mereka menjadi buruk.

Versi kedua, menurut Lilia yang menulis skripsi tentang seni sekura, menyebutkan sekuraan berasal dan bermula pada zaman Islam. Alasannya, pelaksanaan acara ini diadakan untuk memeriahkan dan menyambut Hari Raya Idulfitri dan umat yang merayakan Idulfitri adalah umat Islam.

"Tidak jelas tahun dan abad berapa acara ini mulai diadakan, tetapi menurut perkiraan, Islam menyebar di Lampung Barat sekitar abad ke-13. Dengan demikian, timbul anggapan sekuraan diadakan pertama kali sekitar abad ke-13," kata Lilia.

Lilia mengatakan versi kedua di atas tampaknya lebih meyakinkan dan lebih masuk akal. Alasan yang menguatkan, yaitu hari perayaannya menggunakan tanggal Islam dan hari raya Islam. Di samping itu, dalam pelaksanaannya tidak menunjukkan dan menonjolkan tokoh-tokoh seperti dewa-dewa atau nama-nama yang berkaitan ajaran Hindu.

Dalam sekuraan, terdapat sekura. Bedanya, sekuraan meliputi perayaan dengan tahap-tahapannya. Sedangkan sekura berkenaan orangnya. "Sekura itu orang yang berusaha menutupi wajah dan badannya sedemikian rupa agar tidak dikenali dalam tradisi sekuraan," kata Lilia.

Ada dua jenis sekura, yaitu sekura kamak dan sekura kecah. Sekura kamak berarti sekura kotor yang berfungsi sebagai penghibur bagi penonton. Sekura ini disebut demikian karena pakaian dan topeng yang dikenakannya kotor, misalnya busana tani atau tetumbuhan. Fungsinya menghibur pengunjung.

Sedangkan sekura kecah berarti sekura bersih. Disebut demikian karena kostum yang dikenakan bersih-bersih dan rapi. Sekura jenis ini berfungsi sebagai pemeriah dan peramai peserta. Sekura inilah yang berkeliling pekon atau dusun untuk melihat-lihat dan berjumpa dengan gadis pujaannya, sekura kecah diperankan meghanai.

Pendatang yang tidak menjadi sekura dalam tradisi sekuraan pada Hari Raya Idulfitri, sekura khususnya kaum wanita dan anak-anak langsung singgah ke rumah kerabatnya yang disebut dengan tumpak'an. Setibanya di sana mereka disambut tuan rumah dengan senyum ramah dan disambut pula dengan jamuan makan kue Lebaran.

Pendatang yang ingin menjadi sekura biasanya hanya singgah sebentar sebagai pemberitahuan kepada famili bahwa dia hadir dan datang dalam rangka memeriahkan acara.

Sekelompok sekura terlihat apabila calon peserta berganti kostum dan mengenakan topeng serta berbagai atribut lainnya. Acara sekuraan ini mulai sekitar pukul 9.00 atau bersamaan dengan berdatangannya penduduk dari berbagai pekon.

Sekelompok sekura pertama kali muncul adalah sekura yang bertindak sebagai inisiator penyelenggara. Kemudian disusul kelompok-kelompok sekura lainnya. Jarak antarkelompok 4--5 meter. Pawai keliling kelompok-kelompok sekura inilah yang disebut sekuraan. Para sekura berkeliling mengikuti rute yang ditentukan, mereka berkelompok-kelompok sesuai dengan jenisnya. Sekura kecah bergabung sesama sekura kecah dan sekura kamak bergabung sesama sekura kamak.

Penonton mulai bermunculan (baik yang baru datang maupun yang lama berada di rumah tumpak'an-nya) jika sekura telah pawai keliling. Wanita dan anak-anak duduk-duduk di beranda rumah milik warga menyaksikan sekuraan disertai senda gurau, sedangkan kaum pria turun ke jalan meskipun hanya sekadar menonton, tidak menjadi sekura.

Para sekura awalnya hanya sekadar berkeliling mengikuti rute dan melihat-lihat saja. Mereka beraksi dan berusaha mencari perhatian apabila melihat banyak penonton yang menyaksikan mereka. Sekura mulai melakukan hal-hal aneh seperti berjingkrak-jingkrak tak tentu arah atau menyanyi melantunkan lagu yang dibuat sekehendak hati si pelantunnya. Ada sekura yang bergerak-gerak seolah-olah menari, tetapi dibuat-buat sehingga memperlihatkan kelucuannya.

Ada juga sekura yang seolah-olah hamil dan mengikuti/mencontoh gerakan ibu hamil, ada pula sekura yang bertingkah layaknya wanita dan dibuat-buat seanggun mungkin dan masih banyak lagi tingkah sekura lainnya. Semua sekura mencari-cari agar menjadi pusat perhatian penonton dengan tingkah yang dibuat-buat, sehingga tidak salah jika ada pendapat yang mengatakan sekura berarti injuk kera (seperti kera/monyet) karena tingkahnya seperti kera.

Udo Z. Karzi, penyair, tinggal di Lampung

Sumber: Lampung Post, Minggu, 26 September 2010